Dibalik Senyuman

Aku bukan berasal dari keluarga kaya raya. aku hanya berasal dari keluarga yang sederhana, aku hanyalah seorah gadis yang selalu menghabiskan uang orangtua untuk pengobatanku yang tak kunjung memuai hasil. Dari kecil hingga tumbuh menjadi gadis yang beranjak dewasa dengan segudang penyakit. Rumah sakit adalah rumah kedua bagiku, jarum suntik tidak lah menjadi bumerang. Hidupku hanya bergantung pada obat-obatan, kadang aku berfikir obat-obatan itu adalah maikat hidupku tapi tak jarang pula aku merasa lelah dengan semua ini hingga memiliki pikiran untuk mengakhiri ini semua. 

Aku sadar aku bukanlah anak yang patutu dibanggakan oleh orang tuaku, karena penyakit yang sudah lama menempel di tubuh ini dan tak tau kapan terlepas dari butuh ini. Dan juga kecerdasank semakin hari semakin menurun. Walaupun begitu aku selalu bersyukur tetap diberi kesempatan untuk bernafas. 

Hari-hari ku jalani dengan penuh hitam putih . Hidup ini bagaikan setangkai bunga mawar keindahan bunga wamar seiiring waktu berjalan keindahan bunga mawar akan pudar tapi tajam nya duri dari setanggai bunga mawar takkan pernah pudar. 

Walaupun hidup ku setajam duri dan tak selalu seindah mawar, semua itu aku simpan dengan senyuman. Aku tak permah mengatakan apun kepada teman-teman selalu aku tutupi dengan senyuman, keceriaan, dan sebuah kebohongan kecil. 

Lebih sering hidup ini ku jalani dengan kesendirian, hanya dengan cara ini aku bisa tertepas dari kepalsuan senyuman. Di saat menyendiri merenugi betapa hitam putih kehidupan ini tanpa kusadari air mata ini menetes.


Komentar